#menubar{ width:900px; height:32px; background:#de360f; margin: 0 auto; } #menubar ul{ float:left; margin:0; padding:0; } #menubar li{ float:left; list-style:none; margin:0; padding:0; } #menubar li a, #menubar li a:link{ border-right:1px solid #F0512D; float:left; padding:8px 12px; color:#fff; text-decoration:none; font-size:13px; font-weight:bold; } #menubar li a:hover, #menubar li a:active, #menubar .current_page_item a { color:#ffa500; text-decoration:underline; } #menubar li li a, #menubar li li a:link, #menubar li li a:visited{ font-size: 12px; background: #de360f; color: #fff; text-decoration:none; width: 150px; padding: 0px 10px; line-height:30px; } #menubar li li a:hover, #menubar li li a:active { background: #F0512D; color: #ffa500; } #menubar li ul{ z-index:9999; position:absolute; left:-999em; height:auto; width:170px; margin-top:32px; border:1px solid ##F0512D; } #menubar li:hover ul, #menubar li li:hover ul, #menubar li li li:hover ul, #menubar li.sfhover ul, #menubar li li.sfhover ul, #menubar li li li.sfhover ul{ left:auto } #menubar li:hover, #menubar li.sfhover{ position:static }

Wednesday, 10 August 2016

Full Day School? Really?

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya memposting di FB tentang sekolah sampai jam 5. Saya kira ini hanya HOAX, tapi ternyata jadi trend di sosial media. Sebagai siswa kecemasan pun timbul, sekolah sampai jam 5? tanpa itu pun sudah kelabakan dengan tugas yang menumpuk, malah jadi harus di sekolah sampai jam 5. Iya tidak belajar terus dan membuatnya jadi menyenangkan, but really? walaupun akan dibuat sangat menyenangkan sekalipun para siswa tidak akan suka, waktu untuk istirahat? untuk merenung dan bermeditasi (saya ini mah)? kira pak Menteri cuma orang dewasa aja yang bisa stress dan bad mood, anak sekolahan juga bisa stress dan bad mood. Lalu anehnya alasan utama full day school adalah menjadikan anak tidak liar. What an excuse that is! emang mayoritas anak Indonesia liar gitu? suka keluyuran? emang sebanyak itu yah yang terkena dampak narkoba dan pergaulan bebas? Terus yang normal-normal aja gimana? Yang kerjaannya bukan hanya di sekolah tapi juga bantu pekerjaan keluarga di rumah bagaimana? 
Bilangnya ini gagasan dan wacana aja belum jadi kebijakan, terus dengan gagasan dan alasan yang tidak masuk akal itu buat para siswa dan orang tua cemas. Emang sudah observasi yah? atau hanya liat di berita yang kebanyakan memberitakan hal-hal negatif siswa? yang kena dampak narkoba lah, free seks lah, tawuran lah.
Lebih anehnya lagi, ketika yang jadi masalah adalah pendidikan karakter, moral siswa yang semakin menurun, dan persiapan generasi muda menghadapi MEA yang menuntut kreativitas, eh malah yang ditekankan pendidikan formal yang merujuk kepada kemampuan akademis.
Ya, meskipun gak ada full day school juga, para siswa juga sibuk, ada yang kerja kelompok di sekolah, ada yang ikut ekskul, ada yang les dan bimbel juga, dan semua itu butuh waktu dan tenaga.
Terus full day school, tapi tidak memikirkan transportasi dan konsumsi. Sekolah sampai jam 5 terus tidak makan siang dan tidak ada transportasi untuk pulang, eh sampai di rumah udah kemalaman, gak sempat belajar di rumah, tidak sempat untuk komunikasi dengan orang tua, tidak ada waktu untuk hang out bareng teman-teman, yang ada cuma kelelahan.
Lalu ada juga yang sama baca, gagasan full day school itu dilihat dari sekolah swasta. Iya memang nyatanya di Indonesia anak-anak sekolah swasta memiliki kemampuan akademis lebih baik dari siswa sekolah negeri, tapi benarkah karena mereka sekolah lebih lama? Ya tidaklah, itu karena gurunya. Ya jelas kalau siswa sekolah swasta lebih baik dari sekolah negeri, toh mereka bayar, pasti guru-gurunya tidak sembarangan, pasti yang memiliki kemampuan yang sangat baik, bahkan ada yang membawa tenaga pengajar dari luar negeri. 
Well, Alhamdulillah sudah dikonfirmasi bahwa full day school masih akan dikaji dan kemungkinan tidak jadi. Tapi kecemasan itu masih ada. Tentu saja penolakan jauh lebih banyak daripada yang setuju. 
Sekian dan wassalam

No comments: